Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

2009-11-06

JatimCrew Genap 1 Tahun

Berbicara tentang komputer memang terlalu luas dan tidak akan pernah habis, mulai dari nol ampe angka seribu gede, pembahasan komputer tidak akan selesai-selesai. Terlebih lagi kalo berbicara soal komputer dengan internet, beghhh semua persoalan yang sangat panjang dan begitu komplek. Mulai dari berbicara proses pengamanan yang baik sampai pada proses pencegahan dan perbaikan. Namun terlepas dari itu semua, saya secara pribadi lewat postingan ini karena saya masih NEWBIE, saya hanya ingin mengucapkan selamat Ulang Tahun terhadap JATIMCREW sebuah komunitas pecinta Komputer dan Ilmu Komunikasi serta tetek bengeknya.
Terlepas dari pemberitaan yang pernah miring terhadap JATIMCREW sebagai sebuah komunitas hacking golongan hitan, namun sepengetahuan dan melihat secara kacamata obyektif selama ini JATIMCREW selalu mengedepankan etika dan prosedur yang normal dengan tetap memberikan kelonggaran terhadap para master web design yang memiiliki kerjaan jaga website, server atau apapun istilahnya. Pahit dan manis di lewati oleh JATIMCREW sendiri, mulai dari pembusukan nama JATIMCREW oleh orang-orang yang tidak suka, mencoba menghancurkan forum dan lain-lain, namun sangat di ancungkan jempol, satu-satunya komunitas yang tidak mampu diserang dan jebol pertahanannya sampai saat ini. Semua ini berkat kerjasama dan komunikasi yang aktif antara para anggota beserta para pendiri JATIMCREW sendiri. Tidak ada yang merasa lebih bisa atau pintar, semua sama terlihat dari postingan dan share yang ada di dalam forum sendiri. Apapun pandangan anda sekalian tentang postingan JATIMCREW ini, saya melihat bahwa komunitas-komunitas ini baik JATIMCREW atau pun lainnya merupakan pondasi dasar guna membangun sebuah leadership community yang mengedepankan mekanisme komunikasi dan kesetaraan. Akhirnya Saya ucapkan selamat ulang tahun yang pertama buat JATIMCREW, semoga makin merapikan diri dan mengencangkan ikat pinggang sehingga semua rintangan bisa di lalui tanpa ada masalah.

2008-11-25

Ngeblog, Paradigma, Flatform Atau Popularitas

Beberapa hari ini di YM saya sering membuat status SEO Kucing, SEO Kucing VS Angling Dharma, SEO Kucing VS Wiro Sableng atau SEO Kucing VS Mie Ayam. Banyak yang bertanya kenapa saya nulis itu, atau hanya sekedar iseng menulis. Dasar kenapa saya menulis si status YM coba saya paparkan pada postingan kali ini. Pertama Blog Ini tidak ikut kontes apapun karena kebodohan dan kecupuan saya tentang yang namanya SEO. Kalimat-kalimat diatas adalah merupakan paltform dasar saya berpikir dan berkarya sesuai kemampuan. Karena harus disadari Platform adalah tempat kita berpijak, berkarya & berinteraksi. Platform tersebut akan berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang ada di awalnya cenderung akan mempercepat proses transportasi fisik yang berlanjut dengan percepatan transfer informasi yang menstimulasi percepatan transfer ilmu pengetahuan. Pada masa lalu, ribuan tahun yang lalu, peradaban manusia masih sangat sederhana teknologi dikembangkan untuk mempermudah & memperbaiki hidup manusia. Panah, senjata, bangunan rumah di bangun untuk menjamin rasa aman bagi manusia di dalamnya dari gangguan-gangguan fisik. Peninggalan sejarah berupa benteng, bangunan tua menjadi lambang ke jayaan masa lalu umat manusia. Rasa aman memang di tumbuhkan dengan adanya platform fisik yang memagari umat dari lingkungannya yang ganas. Pertikaian diselesaikan secara fisik, berperang, angkatan bersenjata menjadi sebuah andalan. Kepiawaian dalam mengunakan senjata & sarana fisik untuk menang dalam pertempuran menjadi idaman bagi setiap insan. Nuansa power & kekuasaan menjadi sangat dominan. Di kemudian hari fenomena fisik ini merepresentasikan dirinya menjadi dinding-dinding tebal yang sulit di tembus, kerahasiaan, birokrasi yang bekerja atas dasar mekanisme perwakilan yang dilegitimasi oleh undang-undang. Tatanan & struktur komando yang sangat kerucut bentuknya menjadi model aplikasi birokrasi yang menjamin terlaksananya hukum & pemerintahan. Di sisi fungsional, perdagangan & niaga menjadi ciri lanjutan dari manusia dalam proses budayanya. Effisiensi dan kecepatan menjadi penting untuk memenangkan perdagangan. Pertumbuhan pabrik & industri menjadi ciri khas proses effisiensi dan kecepatan ini. Percepatan pergerakan barang secara fisik menjadi idaman banyak umat, teknologi transportasi & mekanik menjadi dominan bagi perkembangan budaya perdagangan & niaga. Ekonomi bertumpu pada rantai supply komoditas & dagangan. Di masa lalu biasanya nuansa kekuasaan & power bermain berdampingan dengan proses perdagangan tersebut. Kadang tindakan represif di halalkan untuk mengumpulkan kekayaan & kekuasaan bagi sekelompok elit yang sepertinya memperoleh legitimasi untuk melakukan apa saja mengatas namakan rakyat. Secara perlahan, dengan semakin tersebarnya informasi & terjadinya peningkatan kepandaian umat. Mekanisme & proses pendidikan menjadi kunci utama dalam proses penyebaran & pemandaian Manusia. Manusia akan berfikir, akan menggunakan otaknya & umat tidak akan begitu saja mengikuti perintah & tatanan birokrasi yang dibentuk. Kreatifitas, kebebasan berfikir & kritik menjadi lebih terbuka terhadap sistem yang ada untuk kepentingan umat. Tekanan untuk perbaikan sistem menjadi nyata dipicu dengan semakin transparan-nya sistem kepada umat. Secara alamiah & perlahan terjadi proses pengikisan terhadap nuansa kekuasaan & power yang di dominasi oleh sekelompok kecil elit. Sialnya perkembangan teknologi tidak berhenti pada proses effisiensi transportasi fisik saja. Perkembangan teknologi informasi, internet & elektronika ternyata mampu mentransportasi tulisan, informasi & pengetahuan dalam kecepatan mili detik dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi ini. Platform tempat kita berpijak telah berubah bentuk secara significan, dinding, meja, kursi, birokrasi, kekuasaan, power menjadi tidak relevan dalam platform non-fisik yang baru ini. Platform ini dibangun mengunakan program (code), server, port, resource locator yang sulit di imajinasikan dalam dunia fisik yang biasa kita kenal selama ribuan tahun belakangan. Dengan keberadaan platform yang lain ini yang dapat mengeffisienkan proses transportasi informasi & pengetahuan tentunya tingkat dominasi ke tiga (3) pilar kembali bergeser. Tiga (3) pilar (Norma vertikal, Hukum Tertulis & Konsensus) tampaknya mendominasi bentuk struktur yang dibangun di masyarakat. Ketiga-nya secara sederhana membangun kepercayaan (trust) di masyarakat yang menjadi dasar bagi anggota-nya untuk berinteraksi satu dengan lainnya. Tentunya pola kepercayaan yang digunakan sangat beragam, terkadang kepercayaan (trust) tersebut merepresentasikan diri-nya dalam bentuk ketakutan karena tindakan represif penguasa yang harusnya bisa dipercaya. Dominasi pilar horizontal (hukum tertulis & hukum tidak tertulis / konsensus) akan sangat beragam effek-nya. Dalam penjelasan terlihat pergeseran pilar & struktur yang disebabkan oleh percepatan transfer informasi & pengetahuan. Pertanyaannya Lalu :
  • Untuk apa kita Ngeblog? Menimba ilmukah? Berusaha menjadi pandai? Atau Ikut Menggeser Tiga Pilar itu?.
  • Mengapa Ngeblog & menimba ilmu perlu dilakukan? Apakah untuk KUM? Untuk naik pangkat? Untuk memperoleh kedudukan yang lebih baik? Untuk memperoleh gaji yang lebih besar?
  • Mengapa menulis paper? Apakah untuk KUM?
  • Mengapa menulis buku? Apakah untuk kuliah? Apakah untuk menaikan KUM?
  • Siapa yang harusnya menikmati hasil share ngeblog kita? Hasil analisa & sintesa pengetahuan yang dilakukan?
  • Kepada siapa kita harus pertanggung jawabkan hasil ngeblog kita? Hasil analisa & sintesa pengetahuan?
Kepercayaan (trust) tampaknya harus menjadi kunci dari pertanyaaan ini.

2008-10-30

Sekedar Info

Sebelumnya Saya ingatkan saya bukan ahli atau apa, saya hanya menerima kabar dari kawan-kawan yang ahli yang kemudian saya kabarkan kembali kepada kawan-kawan blogger. Oh Ya selamat Hari Blogger Nasional Aja Dech.
Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan aplikasi Google Earth, persembahan Pak Lurah Google, salah satu software yang dikembangkan oleh perusahaan internet terbesar di dunia. Atau mungkin Spyair-Earth yang dikembangkan oleh Pentagon USA yang mampu melihat objek dari NASSA 15 meter di atas permukaan objek. Namun sayangnya Spyair-Earth versi trial hanya 7 hari.saja (kaciiian dech) Akan tetapi perkembangan teknologi baru-baru ini dapat kita lihat di beberapa situs terkenal seperti www.pentagon.gov yang khusus memberitakan seputar software dan teknologi pertahanan USA, www.compactbyte.info , atau situs lain dalam negeri seperi www.beritanet.com. Hampir Kelupaaan neh..hehehehe. Kabar baik dan bahagia disaat Indonesia ataupun dunia mengalami krisis ekonomi, anak-anak bangsa sekali lagi membuktikan diri nya mampu bersaing dengan orang-orang luar, karya-karya ini antara lain adalah B3Droute V.1.0 dan Securty Motor Versi HP Nokia 3315, ok saya info kan dikit ya tentang kedua soft buatan anak negeri ini : B3Droute V.1.0 adalah software (perangkat lunak) buatan anak bangsa. B3Droute V.1.0 merupakan pengembangan dari teknologi GPS dan Sattelite Route / maps. Tidak jauh berbeda dengan Google Earth, kita bisa melihat potret dunia dari Sattelite dengan zona waktu yang dapat kita tentukan. Beberapa kelebihan B3Droute V.1.0 : - Memiliki fasilitas Network Root Analis, berpungsi untuk mendeteksi dan menganalisa jaringan. Bisa digunakan untuk melacak Laptop dengan mengidentifikasi Psycal Address Wireless dan No Mesin atau HP yang hilang ( Masih terbatas pda HP yang memiliki teknologi GPS) - Weather, yang mampu memdeteksi cuaca daerah / negara tertentu. Untuk saat ini masih menggunakan layanan Weather Info dari beberapa situs cuaca. - IP Detect. Membaca IP dari jaringan tertentu dengan kelas dan DNS-nya. - Port Scanner - bandwidth Test - Dan masih banyak lagi. Selanjutnya Securty Versi HP Nokia 3315, security diciptakan oleh seorang mahasiswa IT jurusan sistem informasi tahun 2008 ini, securty ini berguna untuk mencegah terjadinya curanmor dan soft ini sudah diperagakan. Kelebihannya adalah : - Mampu Mendeteksi letak motor dan DNA Pemilik - Mampu Mengetahui Posisi Motor Terakhir. - Dll Nah Jika Anda berminat memiliki dengan B3Droute V.1.0 hubungi segera Byzantium Community Atau jika Anda berminat untuk mencoba terlebih dahulu, kami berikan Versi Trial gratis !!! Sedangkan Untuk Soft satunya lagi tidak diperdagangkan, karena masih dalam tahap penyempurnaan Maaf Tidak Memakai Readmore Karena saya lagi Belajar Bravo Indonesia!!!!!

2008-10-29

Sumpah Pemuda

Kami Putra-putri Indonesia, Mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia Kami Putra-putri Indonesia, Mengaku bertanah air satu, Tanah Air Indonesia Kami Putra-putri Indonesia, Menjujung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia... gambar diambil dari di sini

2008-10-18

Paper Nepal

“WHAT DOES SCIENCE MEAN IT? IT MEANS TO BE USEFUL TO THE PEOPLE. MY DEAR NEPHEWS AND NIECES, YOU WILL BE FUTURE SCIENTISTS, NOT TO BE BIG MEN LIVING ABOVE AND FAR FROM THE PEOPLE, BUT TO WORK FOR THE PEOPLE” (Ho Chi Minh, when receiving academic title “Doctoral Honoris Causa” from Padjadjaran University, Bandung, 1955)
At the present time, education privatization has become the general trend in Indonesia. This matter cause the government subsidy for education minim, privatization of state university, increase of education payment, and limited of academic freedom and form an organization or joint one. Education privatization in Indonesia has cause the university become hard to access by the poor people, education has change become business commodity, meanwhile scientific tradition and academic freedom never happen in campuses. Based on census of Indonesian people on 2004, the population of Indonesia approximately 238.452.952 peoples who are spreads in 30 provinces. This numbers take the fourth biggest population in the world. The land wide is 1.919.440 km² (the fifteenth widest land in the world). On 2003, total income of Indonesian GDP reaches 758. 1 billion US dollars with average rate income per year reach 3200 US dollars. Majority of Indonesia people live in poverty. According to the government, the poor citizen in Indonesia at this time is 37, 17 million people (16,58%) from the total of Indonesian population. Averages of the Indonesian people get income 2 US dollar per day, even less than 1 US dollar per day. In addition, beside the poverty, the Indonesian people right to access education also becomes more limited. On 2002, only 10% youth on university age in Indonesia enter universities. On 2003, majority of new college students (77%) are students with parents have income about Rp 1.5 million per month, 20% is students with parents have income more than Rp 2 million. On 2004, citizen who can access the university only 3% come from poor family. Meanwhile, the rest is come from high-middle class family. As the one of important instrument in developing nation character, education should be a serious attention, especially in the cost of education operational. But in Indonesia, the government applied expensive education. At this time to enter kinder garden and elementary school we have to pay cost Rp 500.000-1.000.000 even, there is a lot more than 1 million. For junior high school and senior high school reaches Rp 1 million-5 million (depending on school). Differentiation of cost between public and private school is not much. University fee of payment reaches millions and even thousand millions. To joint University of Indonesia (UI), for instance, must pay 5-25 millions Rupiah. The question is, can a worker in Jakarta with wage 972.000 per month or peasant in country side with wage 15.000-20.000 per day afford his children to a college with the payment? The narrower of education access is bounded with the government policy to cut the education subsidy. In the constitution of Indonesia (UUD 1945), tell that the allocation for education must 20% from APBN and APBD. But, the government allocation for education never reaches this number. On 2007, the government only gives 12,3% or 98.4 trillion Rupiah for education from total government's expenditure 800 trillion Rupiah. This matter really contrary with the debt payment that is reaches 30-40% from APBN. The government even dares to spend fund 650 trillion Rupiah for the process of re-structure and re-capitalization banking. The expensive of education payment became worsening by the government policy of privatization of public university. Since 2000, the government has put in effect privatization to several prominent public universities in Indonesia. They are University of Indonesia (UI), Technology Institute of Bandung (ITB), Agriculture Institute of Bogor (IPB), Gadjah Mada University (UGM), Education University of Indonesia (UPI), University of Sumatera Utara (USU), Airlangga University (Unair) and Diponegoro University (Undip) These campuses used to be known as “people campus” because give access for the poor people to get college with achievable cost. Now, in these campuses happens a significant escalation of payment. Privatization processes also known as “campus autonomy”. That is campuses have authority to manage funding and government don't give subsidy anymore. But, what happen is the biggest source of funding is come from students. Even, campuses put in effect policy like “special line” or Entry Examine (UM) to absorb fund from prospective students outside of regular line the selection of new student acceptance (SPMB). And opening new courses, instant education stage D1 and D2, and opening distant classes and extension classes to enhance the wealth of campuses bureaucrat. Indonesia has approximately 2767 colleges, 82 of them are public colleges and the rest of them are private colleges. Both of private and public colleges have several common problems, like facilities and low quality of lecturer. The payment in the private colleges -mainly the big private colleges- is very expensive. In Trisakti University in Jakarta, the cost per credit semester system (SKS) is 1.750.000 Rupiah. Student in semester 1 and 2 with the packet system (20 SKS) must pay approximately 35 million per semester. In Business and Informatics Institute (IBI) campus the cost per year can reaches 30 million Rupiah. Since the campus autonomy put in effect, happens the escalation of payment in almost every public colleges. Beside of the expensive of school payment, the other problem of Indonesian education is “curriculum”. Since 1994, has happen 3 time education curriculum exchange that is link and match (1994), curriculum based on competence (2004) and curriculum of denomination of education stage (STP) 2006. The orientation of education curriculum in Indonesia is to create academician that is ready to use and cheap in labour market. There is no effort from government or campus to advance science and national technology, the science that is learn in colleges most of them are theories in middle century, especially in social science. The most updated science less learned. Developing of technology that is exists only to raft technology not to create a new technology. The main focus of scientific development is related to communication and information technology (IT), civil technique and economics (accountancy and management). Meanwhile several courses that are less promise for labour market begin to cut like philosophy, theology and art. There also effort to develop entrepreneurship campus, but only a concept. This is because of disability of the campus to empower its students. This concept only raises the widespread practice of business on education from the campus by searching infestations to enter the campuses. Indonesian education curriculum very less learns on the social reality of Indonesian people. This is causes the Indonesia university student don't know much about the reality of nation and people of Indonesia. Not a general secret anymore if the “Indonesianist” is much come from outside Indonesia. Meanwhile academician of Indonesia much more become propaganda microphone in campus about economics, politic and law theories from west that is mislead for Indonesia people. So, can we conclude that Indonesian education curriculum is non scientific and not give an intelligent. Lecture in Indonesia very far from analyze global objective problems and reality of Indonesia people, don't have purpose to develop science and national technology and don't create highly competent labour that is useful for nation development that is strong and independent.

2008-10-03

Maukah Kita Membaca

Hello Selamat Lebaran yaa buat semua, kita mulai dari nol ya (kayak iklan pertamina aja). Seusai lebaran ini saya sedikit mencoba mencoret blog sederhana ini dengan sebuah coretan tiada pangkal, hanya sebuah goretan si gebrak saja.
Dimulai..............................."
Iqra. Bacalah. Bacalah atas nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bacalah. Bacalah mengapa dan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta dan segala isinya. Bacalah bagaimana matahari dan bulan beredar pada waktu dan siklus yang sudah ditetapkan, berdasarkan pola dan perhitungan yang sangat rumit dan akurat. Bacalah bagaimana flora dan fauna dihidupkan berdasarkan musim dan siklusnya yang berkesinambungan. Bacalah bagaimana manusia, lelaki dan perempuan, diciptakan dari DNA purba hingga bermutasi sampai pada bentuk manusia modern saat ini. Iqra. Bacalah. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang hendak kita ingkari?. Bersyukurlah kita karena Tuhan telah menciptakan manusia dengan akal budi dan qalbu yang tidak dimiliki makhlukNya yang lain di langit dan di bumi ini. Tuhan Maha Besar. Karena itu tidak ada alasan bagi kita, umat manusia, untuk tidak mau, atau tidak mampu membaca semua yang sudah disuratkan dan disiratkan. Bacalah seluruh gejala dan proses alam yang ada di hadapan panca indra, kita agar kita selalu bisa mensyukuri nikmat Tuhan yang tiada bandingan itu. Bacalah. Maka pengetahuan akan terbentang maha luas dan maha kaya. Tanpa membaca kita akan menjadi makhluk yang buta dan tuli, yang tidak mampu mengapresiasi kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Bacalah. Maka kita harus membuka mata, membuka hati, membuka akal dan pikiran kita. Bacalah. Maka kita harus belajar. Kita harus melatih kecerdasan. Kita harus menimba ilmu pengetahuan. Kita harus mempelajari misteri dalam kehidupan dan keajaiban di dalam dan di luar semesta ini. Bacalah. Maka umat manusia harus memiliki akses yang seluas-luasnya terhadap ilmu pengetahuan, agama, dan pelbagai ajaran. Manusia harus memperoleh hak dan kesetaraan dalam pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah, di madrasah-madrasah, di perguruan tinggi. Bacalah maka para pemimpin umat, di desa-desa, di kecamatan, di kabupaten, di propinsi, harus menyediakan sarana pendidikan dan pengajaran yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya kepada seluruh warganya, baik yang tinggal di desa-desa maupun di kota-kota besar.
Bacalah bahwa manusia diciptakan sama dan sederajat oleh Tuhan. Bahwa setiap orang sama dan setara di hadapan sang maut, di pintu surga atau di lembah neraka, sesuai amal saleh dan perbuatannya serta ilmu yang dimanfaatkannya. Bacalah bahwa belajar, mengajar, mendidik, adalah ibadah untuk sesama dan juga untuk agama dan untuk Tuhan, agar manusia tidak mengingkari kekuasaanNya yang tiada bertepi. Bacalah undang-undang dasar negeri ini. Bacalah bahwa pendidikan dan pengajaran adalah hak setiap warga Negara yang harus dipenuhi oleh semua pemerintahan, baik desa, di kecamatan, di kota, di kabupaten, maupun di provinsi. Tanpa memandang jenis kelamin, perbedaan usia, dan tingkat serta status sosialnya. Bacalah bahwa pendidikan dan pengajaran adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh semua unsur pemerintahan baik di desa, di kecamatan, di kota, di kabupaten, maupun di provinsi, tanpa memandang dan menghitung berapa pemasukan anggaran daerahnya, dan berapa luas serta populasi penduduknya.
Bacalah. Pendidikan dan pengajaran serta sarananya, sesungguhnya sudah bisa dimulai dan dibangun di desa-desa, terutama dari masjid-masjid desa yang tak terhitung jumlahnya. Seandainya para warga desa yang beragama Islam setiap hari Jumat menyedekahkan sebagian kecil rezekinya ke dalam kotak-kotak dan kantong-kantong sumbangan yang diedarkan dari satu saf ke saf yang lain di setiap masjid, di seluruh pelosok provinsi, dan kalau semua itu dikumpulkan menjadi satu, berapa juta atau berapa ratus juta rupiah dana yang sangat halal dan ikhlas itu, mampu dikeluarkan dan dikumpulkan di seluruh masjid besar di provinsi ini, hanya dalam satu hari Jumat? Dan berapa besar dana yang akan terakumulasi pada setiap tahun atau setiap 52 Jumat di seluruh provinsi? Ke manakah gerangan raibnya dana-dana umat itu? Untuk apakah penggunaannya selama ini? Sejak sebelum republik ini berdiri? Sejak agama Islam disiarkan di seluruh negeri? Pernahkan kita mengetahui bahwa selain saldo tersisa Jumat lalu, kita mendengar laporan dari para pengurus masjid bahwa sebagian dana sumbangan umat itu dialokasikan untuk dana pendidikan bagi warga yang tidak mampu? Atau disumbangkan untuk para yatim piatu dan fakir miskin? Atau untuk para orangtua jompo, para janda, dan para pengangguran? Bacalah saudara-saudaraku seiman dan para ulama serta pemimpin pemerintahan desa, camat, kota, kabupaten, dan provinsi. Seandainya saja setiap Jumat perolehan sumbangan dari masjid-masjid itu separuhnya saja disumbangkan untuk biaya pendidikan warganya, paling kurang untuk warga di sekitar masjid yang rumahnya berada dalam radius 500 meter dari masjid, maka berapa banyak sekolah, madrasah, sekolah menengah, sekolah tinggi, atau perguruan tinggi yang bisa dibangun setiap Jumat, atau setiap 52 Jumat? Berapa banyakkah guru dan dosen berkualitas yang bisa digaji untuk memberikan pelajaran dan pendidikan yang terbaik bagi warga di sekitar masjid? Berapa banyak anak-anak dari keluarga tidak mampu yang bisa disekolahkan atau dikirimkan ke sekolah tinggi atau perguruan tinggi secara gratis? Dan, berapa ratus atau ribu atau juta penduduk yang akan terbebaskan dari kebodohan, tercerahkan oleh ilmu dan pengetahuan dunia dan agama, dan terbukakan pintu hatinya untuk mensyukuri kebesaran Tuhan melalui pemanfaatan tanah, air, satwa, dan tumbuhan di sekitar masjid? Berapa banyak warga yang tidak perlu lagi menjual tenaga kasarnya untuk mengais-ngais rezeki di negeri tetangga yang seringkali sangat tega dan telengas terhadap para pekerja kita?.

2008-09-15

Catatan Bagi Koe

Sebelumnya saya ingin katakan bahwa tulisan ini bukanlah review blog atau promosi iklan, hanya sekedar pengingat diri bahwa saya adalah seorang pemula yang masih harus banyak belajar dan bukanlah pula seorang ahli IT (ilmu teknologi) atau ahli blogger seperti penghulu-penghulu blogger kayak Kang Jaloe dengan catalog-tutorialnya ataupun dengan jaloe blogspotnya, Abang Andi dengan Snetworknya semoga sukses abang, Brother Firdaus dengan Do Follow, Mas Mochal dengan Blogger Hack dan Javanya, Bloggeraddichter juga dengan Do Follow, dllnya dan juga bukan seorang ahli editing foto seperti Mas Supris, Bung Afif, Lyla Home, MC, dllnya, atau juga bukan seorang penulis kreatif seperti Wendra Sudut Mata, Mba Jovie (Do Follow), Mas Gus, Kang Boim, Pak Ustadz Oeoes (Do Follow), Panda, Unieq CC, Fajar Sang Tukang Ronda, Firman Sang Philuz, Aan sang Putrababel atau para blogger lainnya yang ga bisa saya sebut satu-satu. Thanks sudah mengajari saya banyak hal sehingga saya bisa dikit dan semoga saya diterima diantara semua ini,(buat yang saya sebut namanya saya mohon maaf tidak memakai backlink).

Dan kali ini juga saya tidak membahas tentang kondisi Bangsa ini yang sedikit saya ketahui dari cerita-cerita, nonton TV, dari kawan-kawan FMN, FITRA atau ama temen-temen aktivitis pro demokrasi lainnya, baca buku (walau bukunya buku-buku lapuk), koran (walau harus nyari sana-sini karena kagak bisa beli), via sms walau kadang-kadang ga punya pulsa. Akan tetapi saat ini saya mencoba sedikit menulis tentang kisah Tatapan Ke Depan. Sebenarnya tulisan tentang Tatapan Ke Depan ini diinspirasikan oleh seorang jiwa suci ku yang sekarang lagi di SOLO, jiwa suci selalu ditemani oleh kebodohan dan kelemahannya, tulisannya itu berjudul “Manusia, Hewan, Tumbuhan, Bumi, Untuk Apa Semua Ini”. Tulisan ini memiliki pemaknaan secara filosofis-sosiologis-religius yang begitu mendalam bagiku.

Catatan tentang Tatapan Ke Depan ini berawal dari sebuah karya Muhammad Rusli Abdul Hamid dimana “mereka ini adalah manusia-manusia yang patah menjadi dua batang, sebelah diatas bumi dalam lipatan rahasia demi rahasia, sesobek lagi dialam lain-dalam segumpul jiwa bulat telanjang”, lalu kenapa mereka bisa bernyanyi do-ra-mi-fa-sol dengan merdu..???. Tatapan Ke Depan pun terus berjalan sampai pada suatu pagi yang cerah nan indah dimana sosok seorang anak manusia berambut gondrong, tinggi kurus dan dekil berjalan jongkok dalam sebuah iringan-iringan kecil menuju sang Tuan, tiba-tiba dari kejauhan terdengar sayu-sayu seseorang yang begitu gagah dan tegar berteriak “Tiap pengacau harus dibasmi! Tiap pengkhianat harus dibuat menungging! Tapi benarkah si gondrong bersalah atau mungkin sang tampan yang buta huruf??. Tatapan Ke Depan pun melanjutkan perjalanannya, ditengah perjalan lalu bertemu dengan dua buah awan yakni awan kecil dengan awan besar, Tatapan Ke Depan secara diam-diam memperhatikan percakapan dua awan ini “awan besar berucap kepada awan kecil (wahai awan kecil sungguh rugi dirimu tidak bisa menyamaiku dan teman-temanku, jikalau kami berkehendak hujan turun dengan sekali tiup maka mendungpun akan muncul pertanda hujan segera turun, mendengar ucapan tersebut awan kecil pun tertunduk sambil berkata (sungguh malang nasibku, aku tidak bisa memberikan keinginan seperti awan besar dan juga tidak memiliki teman seperti awan besar) lalu Tatapan Ke Depan melihat awan kecil pergi dengan ditertawakan terbahak-bahak oleh awan besar.

Tatapan Ke Depan pun mengikuti jalannya awan kecil dari belakang, namun tiba-tiba ditengah perjalanan Tatapan Ke Depan melihat awan kecil tertiup angin besar dan akhirnya menghilang, seketika itu Tatapan Ke Depan kaget bukan kepalang dengan sebuah kalimat terucap sungguh kasihan benar nasibnya awan kecil, semoga engkau tenang di alam sebelah sana bersama jiwa dalam telanjang bulat. Tatapan Ke Depan pun melanjutkan perjalanannya dengan kesendirian dan tatapan sayunya, akan tetapi kembali lagi ditengah perjalanannya ini jauh kira-kira hanya 500 meter Tatapan Ke Depan mendengar suara halilintar menggelegar dan ketika mendekat Tatapan Ke Depan pun melihat awan kecil menjadi sebuah halilintar yang menyambar-nyambar awan besar yang sedang bersenda gurau dengan istri dan temannya, melihat tersebut Tatapan Ke Depan tersenyum sambil berucap wahai sahabatku kenapa engkau tidak muncul tetap ketika hujan, kenapa engkau hanya sesekali muncul namun mampu membuka bumi dengan lipatan-lipatan rahasianya.

Tatapan Ke Depan pun berjalan lemah dan letih, dibawah sebuah pohon mencoba duduk guna beristrihat, disaat duduk itulah Tatapan Ke Depan melihat sebuah baju kekar yang memiliki sebuah baju indah, namun aneh bagi Tatapan Ke Depan kenapa sang baju kekar membiarkan baju Indahnya berjalan gandengan dan bermesraan dengan baju kekar lainnya tanpa ada rasa cemburu atau menasehati baju indahnya ini. Tatapan Ke Depan pun menangis dan dalam tangisnya inilah dia terbuai dalam alam tidurnya dibawah pohon tempatnya duduk.

Tatapan Ke Depan pun tertidur dengan lelapnya sehingga dia tidak menyadari bahwa bersamaan dengan terbitnya matahari yang berbeda diufuk sana dia mendapatkan sejarah singa-singa dan baju kekar telah memasuki hari-hari yang berjuta-juta jumlahnya, padahal dalam berapa bulan lalu hidupnya singa-singa ini berada pada tritunggal (makan, daerah kekuasaan, dan kepuasan) yang lain-lain menjadi perkara sipil baginya, dan dalam beberapa bulan itu pula hidupnya baju kekar ini penuh dengan dansa-dansa ditemani baju indah lainnya yang lebih baru. Tatapan Ke Depan bersama cahaya matahari berjalan melanjutkan perjalanannya setelah tertidur pulas semalam, dalam perjalanannya pun Tatapan Ke Depan menemukan satu patahan yang mirip patahan manusia, akan tetapi patahan ini begitu kecil sehingga untuk mengukur kecilnya pun harus menggunakan perkara-perkara sipil yang jumlahnya hanya berbulan-bulan, Tatapan Ke Depan pun menengadah ke atas sambil menangis, lalu berkata sungguh malang wahai nasibmu singa-singa dan baju kekar yang selalu berdansa dan berdiri diatas tritunggal mu itu, kenapa engkau tidak mengikuti jejak awan kecil yang menjadi halilintar namun selalu bersabar tidak sombong, atau menjadi lelaki gondrong dan kurus yang ketika menghadap tuannya selalu jongkok dan dekil.... Tatapan Ke Depan pun lanjutkan perjalanannya dan bertemu kembali dengan awan kecil dan lelaki gondrong serta kurus di akhir perjalanannya seraya berkata saya bukan siapa-siapa, apa yang saya kerjakan hari bukan karena saya akan tetapi karena hari ini putaran itu membawa saya berjalan ke pekerjaan itu...Semoga saya selalu ingat tentang siapa sebenarnya saya ini yakni Tatapan Ke Depan.

2008-08-30

Mari Kita Berbuat

Sebelum saya memulai tulisan singkat ini, ijinkan saya untuk mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan, semoga dengan datangnya bulan suci ini, segala amal perbuatan kita diterima disisiNYA dan kita semakin giat untuk terus lebih memupuk semangat guna berbuat kebaikan.
Indonesia merupakan sebuah Negara yang dikenal dengan Negara kepulauan dan memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah, namun sayang kekayaan alam tersebut tidak bisa dinikmati secara maksimal oleh sebagian rakyat Indonesia. Mungkin tulisan ini bagi orang tidak ada ujung dan pangkalnya, tulisan ini berawal ketika kemarin malam saya membuka blog seorang yang begitu giat menulis tentang persoalan-persoalan sosial bangsa ini dan dunia.
Setelah membaca dengan seksama tulisan tentang review kampanye di MTV saya mencoba mendiskusikannya dengan orang yang bagi saya sangat berpengalaman, dalam proses diskusi lewat Yahoo Mesengger ini, saya juga mencoba menghubungipenulis kreatif dan penuh semangat. Dalam diskusi kami ini ternyata memunculkan sebuah gagasan yang sangat cemerlang dan mulia, namun itu tentu tetap membutuhkan perencanaan yang matang. Gagasan ini mengambil inti sari dari tulisan Mas Gus. Bagi saya tulisan tersebut butuh tindak lanjut dengan action plan yang matang karena sudah saatnya para blooger Indonesia berbuat dengan konkrit dalam bencana kemanusiaan ini. Memang saya tidak memungkiri bahwa selama ini public opini yang dimunculkan oleh para blogger cukup maju dan kritis, akan tetapi bagi saya yang baru gede ini, public opini yang kita bangun ini harus diiringi dengan sebuah perbuatan nyata.. Para blogger juga harus membuktikan diri bahwa selain kreatif dan jago dalam hal desaign dan pemerhati sosial di samping membangun komunitas-komunitas blogger baik didaerah-daerah maupun komunitas blogger Indonesia, maka tindakan kita harus lebih maju lagi, sehingga para blogger tidak dianggap sebelah mata dan yang paling mulia adalah mendapatkan tempat dihati mereka yang membutuhkan. Akan tetapi sekali lagi semua ini butuh sebuah frame work yang matang dengan mempertimbangkan segala hambatan-hambatannya, dan lewat tulisan ini pula saya mengajak kita semua untuk sama-sama memikirkan solusinya sehingga kita mampu berbuat demi mereka yang membutuhkan..Akhirnya saya mohon maaf bila tulisan pendek ini tidak jelas ujung pangkalnya atau ada yang menyinggung perasaan yang membaca, saya tidak ada maksud lain kecuali berharap blogger Indonesia harus lebih maju dalam tindakannya. Mari Jangan Ragu berbuat Demi bangsa dan Negara, Bencana Kemanusiaan Tidak Bisa dibiarkan begitu saja..Kalo tidak sekarang kapan lagi...Negara Membutuhkan para blooger.

2008-08-14

Kado 17 Agusutus (Politik Anggaran VS Kekuasaan)

Rakyat Indonesia sudah pasti tidak akan pernah lupa dengan slogan tentang komitmen pemimpin nasional maupun lokal pada saat pemilihan dulu. Komitmen untuk menciptakan tatanan sosial yang adil, sejahtera, bermartabat dan lain-lainnya telah berkumandang ke seluruh pelosok daerah dan tertanam di hati rakyat Indonesia. Didaerah misalnya hampir semua pejabat mengaku dengan gagah memperjuangkan visi dan misi masa depan bangsa seperti ini. Sayang, dalam praktek gambaran akan hal tersebut diatas tidak pernah terlihat. Berbagai upaya yang disusun dan dituangkan dalam kebijakan umum anggaran, strategi dan prioritas kebijakan serta APBD lebih banyak menjadi dokumen formal ketimbang rencana aksi yang kongkrit untuk kepentingan rakyat. Ada sesuatu yang aneh, ketika pemerintah daerah mengklaim telah membenahi sistem perencanaan dan penganggaran sepanjang waktu, kepercayaan publik justru semakin menurun. Rakyat merasa janji politik dengan berbagai reformasi yang ditawarkan tidak memiliki korelasi bagi peningkatan kualitas hidup mereka. Roda pembangunan terus menggelinding maju, namun rakyat justru merasakan sedang berjalan di tempat atau bahkan merasakan kemunduran. Indikator-indikator ekonomi dan kesejahteraan sosial masyarakat menunjukkan gambaran nyata tentang itu. Jumlah penganggur meningkat tajam, kesenjangan sosial semakin lebar, harga-harga semakin sulit dijangkau, kualitas pelayanan kesehatan semakin menurun meski ongkos untuk itu semakin mahal, pendidikan semakin eksklusif dan mahal, lingkungan semakin tidak ramah, dan bocah-bocah busung lapar dianggap sesuatu yang biasa saja. Tahun 2004 misalnya, Data Depdiknas menyebutkan dari 29,8 juta siswa SD/MI hanya sekitar 82 persen saja yang dapat menyelesaikan sekolahnya dan dari 50 juta orang siswa SD sampai dengan SMA hanya sekitar 20-25 persen saja yang mampu menyelesaikan sekolahnya atau hanya sekitar 10-12,5 juta siswa pada setiap tingkatannya. Ketiadaan biaya adalah faktor penyebab yang paling dominan, sementara itu angka buta huruf di Indonesia 15,5 juta. Tahun 2004 juga, indeks pembangunan manusia (HDI) Indonesia diurutan 111. Setingkat di atas Vietnam, tetapi masih di bawah Filipina, Malaysia, dan Thailand (Sumber Kompas, 10/10/2005). Selain itu juga, hasil proyeksi Balitbang Depdiknas memperkirakan bahwa murid yang putus sekolah tahun ajaran 2004-2005 di level SD, SMP/MTs, SMA/MA mencapai 1.122.742 anak. Angka terbesar putus sekolah justru berada pada tingkat SD, yakni mencapai 685.967. Satu sisi, biaya pendidikan setiap tahun selalu naik. Untuk masuk SD saja, rakyat harus membayar hingga ratusan ribu rupiah (Seperti yang terjadi di 2 sekolah Negeri di Lombok Timur/NTB sampai Rp. 2.415.000/untuk putra dan Rp. 2.516.000./untuk putri, hanya untuk membayar uang masuk bagi yang tidak lulus ujian masuk lewat seleksi nilai SKHU). Kenyataan ini diperparah lagi dengan tingginya angka rakyat miskin yang tidak bersekolah atau putus sekolah. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyatakan bahwa sekitar 19 persen dari anak-anak berusia sekolah (di bawah 15 tahun) tidak bersekolah dengan perbandingan pendapatan rakyat Indonesia 2 dollar/hari. Hal ini tentu mengherankan rakyat ditengah meningkatnya jumlah pajak dan retribusi yang harus disetor kepada penguasa. Rasa keadilan masyarakat semakin tertusuk oleh kenyataan yang bertolak belakang secara diametral dengan kehidupan mereka, yakni kemewahan yang menjadi privilege bagi elit politik dan kelompoknya. Kemewahan dan prilaku extravaganza juga dipertunjukkan oleh para politisi, gedung wakil rakyat tidak lagi menjadi simbol penderitaan dan perjuangan rakyat, namun sebaliknya menjadi marketing agent kapitalis pemburu rente lengkap dengan berbagai symbolnya. Mobil mengkilap, jas bermerk, rumah baru nan mewah , fasilitas hidup nan lengkap dan sebagainya hadir tanpa diketahui sumbernya, sangat tidak sebanding dengan pendapatan resmi yang diperolehnya. Pertumbuhan kekayaan oleh segelintir elit sudah sampai pada tingkat yang tidak dapat ditolelir oleh himpitan kemiskinan rakyat. Fenomena-fenomena ini terakumulasi menjadi frustasi sosial dan menghancurkan sosial-kapital yang sudah ada. Penghancuran ini muncul dalam bentuk meningkatnya kriminalitas, krisis moral dan penyimpangan-penyimpangan lainnya yang mengancam kenyamanan sosial. Ketidakpercayaan yang luar biasa tidak hanya ditujukan kepada pemerintah, tetapi juga kepada sesama masyarakat. Jika kerusakan sosial semacam ini terus tumbuh secara linear, bom waktu bernama kesenjangan dan pembodohan yang maha dahsyat akan menjadi ancaman kehidupan kita bersama. Lalu, dimana sebetulnya pangkal soalnya ? Mengapa perubahan sosial yang terjadi justru berbeda arah dengan konstruksi sosial yang ingin diwujudkan oleh perencana pembangunan ? Apakah kesalahan terjadi pada konsep dan strategi program yang direncanakan? Ataukah justru para pelaksana pembangunan yang mendistorsinya? Apakah yang sesungguhnya telah dilakukan oleh pemerintah? Sebagian pertanyaan tersebut terjawab manakala kita menelisik lebih teliti, bagaimana cara pemerintah dengan kekuasaannya mengumpulkan sumber daya publik? Untuk siapa dan dengan cara bagaimana pemerintah menggunakan sumber daya tersebut?. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas akan kita ketemukan dalam proses dan produk penganggaran, karena anggaran khususnya anggaran daerah adalah dokumen perencanaan pembangunan paling kongkrit yang menunjukkan prioritas dan arah kebijakan pemerintahan dalam satu periode (tahunan). Dinyatakan paling konkrit karena anggaran berperan sebagai kebijakan operasional yang merupakan turunan dari strategi pemerintah sesuai visi, misi dan program pembangunan yang ditetapkan. Mungkin kita mulai dari persoalan Otonomi Daerah, sejak otonomi daerah diterapkan mulai tahun 2001 silam belum ada perubahan kebijakan Fiskal yang cukup mencolok. Kebijakan desentralisasi fiskal sebagai turunan dari UU otonomi daerah No. 22 tahun 1999 masih mencerminkan dominasi pemerintah pusat dalam pengelolaan keuangan masih sangat besar. Lihat saja, seluruh daerah propinsi dan kabupaten di Indonesia hanya memiliki kewenangan perpajakan (taxing power) tidak lebih dari 5% dari seluruh kewenangan pajak di Indonesia. Jauh dibawah rata-rata negara berkembang yang jumlahnya sebesar 10% dan negara maju yang rata-rata mencapai 20 %. Dalam hal alokasi anggaran, misalnya DAU yang dikucurkan ke daerah, masih menggunakan batas minimal yang 25% dari APBN. Konsep DAU semacam ini tidak efektif untuk menjembatani kesenjangan antar daerah (horizontal imbalance) karena memuat internal paradoks di dalamnya. Dengan karakteristik kewilayahan dan kemampuan yang sangat beragam dari masing-masing daerah, DAU hanya akan efektif jika kekuasaan keuangan pemerintah pusat sangat besar dan kemudian pemerintah pusat mendistribusikan ke daerah-daerah. Meskipun konsentrasi keuangan dan kewenangan pengalokasiannya masih didominasi pemerintah pusat, desentralisasi fiscal melalui pemberian/alokasi anggaran melalui mekanisme perimbangan/bagi hasil pajak, DAU dan DAK, setidaknya telah memberikan kekuasaan yang lebih luas kepada daerah. Dengan demikian ada peluang untuk mendorong partisipasi masyarakat yang lebih luas untuk mempengaruhi kebijakan publik. Akan tetapi menguatnya kekuasaan di pemerintahan daerah dengan kebijakan otonomi daerah khususnya desentralisasi fiskal ini tentunya membawa konsekuensi desentralisasi korupsi di daerah yang akan semakin menggejala. Karena hampir tidak ada control yang cukup kuat terhadap perilaku pengelolaan desentralisasi fiscal ini. Bolehlah ada Badan Pengawasan Daerah (BAWASDA). Akan tetapi selama Bawasda masih berada bawah ketiak kepala daerah maka ia tidak bisa optimal melakukan pengawasan. Karena itu diperlukan pengawasan dari luar. Teori manajemen paling sederhana mensyaratkan pentingnya eksternal auditing. Perangkat hukum yang disusun di banyak daerah pun mengabaikan pentingnya jaminan terhadap pengawasan publik. Akhirnya dengan sebagian kecil potret penganggaran diatas setidaknya kita bisa selalu berharap dan terus mendesak pemerintah dan DPRD untuk benar-benar melakukan amanat UUD dan rakyat. Mungkin, reformasi anggaran saat ini sangat mendesak untuk dilakukan karena hubungannya dengan birokrasi yang rentan korupsi, terlalu gemuk dan tidak efektif dan efisien dalam operasionalnya. Juga sangat terkait dengan struktur organisasi pemerintah yang demikian besar tetapi hasil kerjanya tak sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan. Semoga kita masih bisa berharap pada wakil rakyat yang ditangannya telah dititipkan amanah untuk membahasnya.

2008-08-06

Indonesia Belum Merdeka

17 Agustus mungkin bagi semua rakyat Indonesia adalah hari yang begitu bersejarah, karena pada tanggal itu bangsa ini mendapatkan kemerdekaannya walau menurut sebagian orang kemerdekaan itu adalah hadiah dari penjajah. Akan tetapi perdebatannya bukan disana (ini menurut pandangan subyektif pemula). Pertanyaan sekaligus perdebatan yang tepat untuk kita layangkan adalah sudah 63 tahun bangsa ini mendapatkan hadiah tersebut, akan tetapi perubahan secara signifikan belum ada. Perubahan sampai hari ini oleh sebagian orang masih berbentuk struktural atau perebutan kekuasaan semata, siapa yang dijatuhkan dan siapa yang akan menggantikan..
Padahal bangsa dengan begitu besar pulau dan indah ini tidak memerlukan perdebatan seperti itu, hal nyata dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat adalah hal paling mendasar untuk dilaksanakan. Berbicara perwujudan kesejahteraan rakyat tidak bisa dilihat dengan sebelah mata atau setengah-tengah, perwujudan kesejahteraan bangsa harus dilihat secara konfrehensif dan lugas. Kenaikan harga BBM. Biaya Pendidikan yang mahal, perekonomian rakyat kecil yang semakin hari semakin melemah, penangkapan dan pemukulan para penggiat sosial dan aktivis gerakan mahasiswa serta lain-lainnya merupakan bagian-bagian yang tidak bisa dipisahkan begitu saja.
Secara kasat mata memang persoalan-persoalan bangsa ini terlalu banyak sehingga memerlukan waktu dalam penyelesaian. Padahal kalau kita mau jujur persoalan besarnya atau kontradiksi pokoknya ada pada menyembahnya pemerintah bangsa ini kepada kepentingan IMPERIALISME di bawah pimpinan Amerika Serikat (AS). Ini terbukti dengan ketidak beranian Pemerintah mengambil sikap pada pertemuan WTO di Hongkong desember 2005 yang pada akhirnya Pendidikan sebagai ujung tombak peradaban bangsa menjadi Mahal dan sulit dijangkau oleh anak-anak buruh, petani, nelayan dan rakyat kecil lainnya.
Selain itu, APBN kita pada tahun 2005/2006 sekitar 40% hanya digunakan untuk membayar hutang dan hutang, kemudian sektor Anggaran Pendidikan 20% hanya mimpi bagi rakyat kecil terbukti sampai tahun 2008 ini hanya 11,5% (kurang lebih) yang dianggarkan padahal kalau pemerintah kita mau serius mengurusi pendidikan, maka pemerintah hanya perlu menganggarkan 70 triliun rupiah hanya untuk pendidikan dan itu sudah include semuanya (operasional, dll).
Yang lebih mengherankan adalah kekayaan alam bangsa ini dikeruk habis oleh Top One Oil, Freeport, Newmont, Exon Mobile (pokoknya negara-negara G-8,Paris Club,dll) dan rakyat Indonesia hanya menjadi buruh disana dengan gaji yang murah. Kasus Newmont di NTB, warga pribumi hanya satu orang yang memiliki gaji 32 juta rupiah perbulan namun dengan resiko kerja 99% karena bekerja diterowongan bawah tanah..apabila hitung secara matematika, maka gaji itu hanya untuk membayar asuransi nyawa yang dimiliki oleh karyawan Newmont NTB ini. Kalau alasannya adalah Sumberdaya Manusia kita kurang memadai, maka pertanyaan baliknya kenapa Pendidikan Mahal, kenapa harus orang luar yang kerjakan hal kecil, kenapa kalau ingin melamar kerja harus antri???semua pertanyaan itu adalah jawaban dari alasan tidak rasional tersebut.
Sehingga kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan oleh Para Pahlawan bangsa ini menjadi sia-sia karena Indonesia sekarang kembali lagi dijajah secara modal dan pikiran...Lalu kapan Indonesia MERDEKA secara total. Mari Kita Renungkan Bersama..........
Tulisan ini merupakan rangkuman dari beberapa catatan tentang analisis ekonomi politik dan review pemerintahan SBY-JK selama 4 tahun..

2008-07-24

Mata Pena.

Dengan Mata Pena Ku Gali-gali Seluruh Diri Dengan Helai-helai Kertas Ku Tutup Nganga Luka-luka
Kupancing Udara Di Dalamnya Dengan Angin Tangkapanku Begitulah Selalu Ku Tulis Nyawamu Senyawa-nyawaku
(Abang Abenk)

Kejamnya Diskriminasi Dunia Pendidikan

Pelanggaran hak asasi manusia mewarnai penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2008 ini. Wijaya, seorang tunanetra alumni SMA Negeri 66 Jakarta Selatan, setelah lolos seleksi Ujian Masuk Bersama (UMB) Fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah, saat daftar ulang ditolak oleh pihak universitas, karena dia tunanetra. Uang yang telah dibayarkan sebesar Rp 1,850,000 dikembalikan kepada yang bersangkutan, sementara semua berkas pendaftaran ulang yang telah diserahkan hingga kini tetap ada pada pihak perguruan tinggi.
Sudah sejak tahun 80an, atau bahkan mungkin sebelumnya, universitas yang dahulu bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ini membuka diri pada hadirnya tunanetra untuk belajar di sana di berbagai jurusan yang ada, termasuk Fakultas Tarbiyah. Dan, dari kampus yang berlokasi di kawasan Ciputat ini, telah lahir sejumlah sarjana tunanetra yang saat ini telah berkiprah di masyarakat pada bidang mereka masing-masing. Bahkan, tahun lalu, seorang tunanetra dari Fakultas Dakwah lulus dengan predikat terbaik.
Tapi entah mengapa, tiba-tiba perguruan tinggi yang semula ramah pada tunanetra itu mengubah pendiriannya. Wijaya, siswa tunanetra yang sejak di awal masa studinya senantiasa mendapatkan layanan dampingan dari Yayasan Mitra Netra, setelah lolos ujian masuk bersama yang diselenggarakan pada pertengahan bulan Juni lalu, ditolak dengan alas an karena dia tunanetra. Bersama Wijaya, Arif, yang juga satu SMA dengannya, saat ini sedang mempersiapkan diri belajar di FISIP Universitas Indonesia, jurusan kesejahteraan social. Dari catatan Mitra Netra, terdapat empat tunanetra lain yang saat ini sedang menempuh studi di UIN, salah satu di antaranya Rafiq, juga belajar di Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam. UIN, sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang juga berfungsi sebagai "agen perubahan", telah menodai dirinya sendiri dengan perlakuan diskriminasi kepada satu anak bangsa yang dengan sungguh-sungguh ingin mengembangkan dirinya. Apakah kekerasan dalam pendidikan semacam ini akan terus dibiarkan? Jakarta, 17 Juli 2008 Aria Indrawati Kabag Humas Yayasan Mitra Netra Sumber : Hermaini Pematasuri (Milista TIFA Foundation) Di Kutip Dari Forum Pembaca Koran Kompas.

2008-07-11

Tuan Guru dan Pembangunan

Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) menjadi wacana global yang sering disoroti dalam berbagai pembicaraan, kajian, dan penelitian. Sejak krisis menimpa Indonesia pada pertengahan tahun 1997 di berbagai bidang kehidupan, sebagian rakyat Indonesia menjadi demikian pesimis. Apalagi mereka yang terkena akibat krisis secara langsung, seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), atau usahanya gulung tikar, akan tetapi ada juga dari mereka yang tetap yakin, optimis, dan beranggapan Indonesia masih tetap kaya, baik kekayaan sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), budaya, maupun kekayaan lainnya. Akan tetapi, kekayaan Indonesia tersebut tidak dikelola dengan baik, sehingga tidak memberikan hasil dan secara merata untuk dirasakan oleh rakyat Indonesia, kemudian timbul sikap apatis dari rakyat, berupa berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, sehingga melalui agenda reformasi diharapkan bangsa Indonesia akan mampu keluar dari krisis yang multidimensi tersebut. Namun, upaya yang dilakukan tidak semudah membalikkan telapak tangan, ironisnya keadaan bangsa Indonesia semakin “parah” ditandai dengan tindakan-tindakan anarkhis dan brutal yang jauh menyimpang dari identitas bangsa, ajaran agama, dan nilai-nilai, serta norma-norma kehidupan yang selama ini menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.
Terlalu sulit untuk mengidentifikasikan penyebab dari semua peristiwa yang menimpa bangsa Indonesia, akan tetapi jika dilihat dalam konteks sosiologis, sebab dari semua peristiwa tersebut ialah ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang dirasakan oleh masyarakat. Bentuk ketidaksesuaian tersebut tidak sejalan dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang telah ditetapkan dalam Garis-Garis Haluan Negara (GBHN) mengenai kewajiban dan tanggung jawab pemerintah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia menuju kesejahteraan lahir dan bathin.
Diketahui juga, pada masa Orde Baru pembangunan dilaksanakan secara top down, kemudian menimbulkan dampak sampingan terhadap pembangunan itu sendiri. Pembangunan yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam persaingan pasar bebas terkendali, memberikan munculnya para pengusaha kaya raya (konglomerat) yang tidak memberikan keuntungan bagi sebagian besar masyarakat lapisan bawah. Pembangunan dilaksanakan dengan konsep pertumbuhan ekonomi telah melahirkan kemiskinan dan lemahnya kualitas SDM. Dengan kata lain, terjadinya ketimpangan pada bidang ekonomi dan pendidikan. Selain itu, ketimpangan antara pemerintah pusat dan daerah, antara Jawa dan luar Jawa, serta antara kota dengan desa (Thamrin, 1995: 119). Sejalan dengan itu, perubahan dalam berbagai bidang kehidupan telah membawa implikasi terhadap perubahan sistem kenegaraan ke arah desentralisasi ditandai dengan lahirnya Undang-Undang (UU) No. 22 tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 2000, namun otonomi daerah baru terlaksana pada awal tahun 2001, kemudian UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 2000 dijadikan sebagai landasan yuridis bagi penyelenggaraan otonomi daerah, tetapi dalam perkembangannya UU No. 20 tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 2000 direvisi dengan UU No. 32 tahun 2004 dan UU No. 34 tahun 2004, maka sejak itu pula titik berat otonomi berada pada tingkat daerah Kabupaten/Kota. Dengan itu pula, menunjukkan pada banyaknya tanggung jawab yang diemban oleh daerah, seperti pendidikan hingga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, antara lain pemeliharaan fakir miskin dan anak-anak terlantar. Tidak menutup kemungkinan akibat yang ditimbulkan yakni saat pemerintah daerah ‘tidak peduli’ dengan pendidikan, ini menandakan Indonesia semakin terpuruk dalam soal human resources. Beratnya beban yang dihadapi oleh daerah menunjukkan pada kondisi riil masyarakat, khususnya masyarakat Desa Jerowaru Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat, berupa tingginya angka kemiskinan atau rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat (59%), diiringi dengan rendahnya mutu SDM dengan tingkat pendidikan menunjukkan pada tingginya angka buta huruf dan tamat sekolah dasar (57%), yaitu kira-kira setengah lebih dari jumlah penduduk desa yang ada (BPS Kab. Lombok Timur, 2002). Mencermati kondisi masyarakat desa pada era otonomi daerah dan globalisasi sudah menjadi tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat sendiri. Keterlibatan masyarakat, secara khusus tidak dapat lepas dari peran tokoh-tokoh yang berpengaruh di dalamnya. Bagi masyarakat Desa Jerowaru tokoh agama (Islam) sangat berpengaruh dan memiliki peran sentral dalam mengembangkan aktifitas masyarakat, hal ini dimungkinkan karena sebagian besar masyarakatnya beragama Islam dan secara umum masyarakat Lombok, sehingga tak salah memperoleh sebutan “Pulau Seribu Masjid”. Tuan guru demikian sebutan untuk tokoh agama pada masyarakat Lombok dalam kehidupan sehari-hari dikenal memiliki gaya hidup (life style) sederhana, tidak menonjolkan diri pada urusan-urusan keduniawian, dan tidak terbawa oleh gemerlapnya mode-mode sesaat. Dengan begitu masyarakat merasa kagum, patuh, dan memposisikannya “serba lebih” dan “serba bisa” dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain yang ada pada masyarakat desa. Adapun tuan guru yang cukup terkenal pada masyarakat Lombok, antara lain, seperti TGH. Muh. Zainuddin Abdul Majid (almarhum) di Pancor Lombok Timur, TGH. Umar (almarhum), seorang imam besar di Mekkah dari Kelayu Lombok Timur, TGH. Nadjamuddin (almarhum) dari Praya Lombok Tengah, TGH. Ibrahim (almarhum) dari Kediri Lombok Barat. Tuan guru atau kyai (Jawa) bukan hanya sebagai tokoh agama, melainkan juga sebagai pendiri, pimpinan, pengasuh dan pemilik pondok pesantren, yang kemudian oleh Wahid (1984: 10) disebut subkultur yang menjadi pusat gerakan kultural dan moral, sehingga pondok pesantren tidak dapat dilepaskan dari posisi tuan guru, karena tuan guru merupakan salah satu elemen dasar yang penting, bahkan terpenting dari pondok pesantren (Ali, 1987: 23, Dhofier, 1990: 44). Hal ini juga terbukti dengan perkembangan pondok pesantren yang begitu cepat di Lombok, sampai dengan tahun 2004 berjumlah 198, dengan rincian di Kota Mataram terdapat 16 pondok pesantren, Lombok Barat terdapat 60 pondok pesantren, Lombok Tengah terdapat 51 pondok pesantren, dan Lombok Timur terdapat 71 pondok pesantren (Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi NTB, 2004). Sumber : Tesis Habibuddin, M.Pd (Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat/LPM) IAIH Pancor.

2008-07-05

Analisis Kenaikan BBM

Tanggal 24 Mei 2008, rejim SBY-Kalla kembali membuka memperlihatkan muka bopengnya sebagai rejim anti rakyat yaitu dengan menaikkan harga BBM di dalam negeri. Kebijakan yang tidak populis tentang kenaikan harga BBM sebesar 28,7% ini, telah memicu kebangkitan pergerakan rakyat di Indonesia secara lebih meluas. Kenaikan harga ini merupakan yang ketiga kalinya setelah hal serupa yang dilakukan pada pada Maret 2005 dan Oktober 2005. masing-masing dengan kenaikan sebesar 29% dan 128%.
Dalam setiap pemberitaan di berbagai media, tidak pernah lepas dari pantauan kita tentang aksi-aksi yang dilakukan berbagai sektor rakyat tertindas yang menolak kebijakan kenaikan harga BBM yang diterapkan oleh rejim kali ini. Alasan menyelamatkan APBN agar tidak bangkrut karena besarnya tanggungan subsidi yang harus diberikan pemerintah pada BBM yang dikonsumsi oleh rakyat akibat kenaikan harga minyak dunia yang terskhir mencapai US$ 135 per barrel, jelas tidak bisa kita terima. Meskipun pemerintah berasumsi bahwa kenaikan harga BBM ini merupakan jalan terbaik yang harus dilakukan karena perhitungan yang dilakukan kenaikan ini akan menghemat anggaran negara sampai dengan Rp 190 trilliun atau sekitar US$ 20 milliar. selengkapnya lihat disini http://fmn-indonesia.blogspot.com.

2008-06-30

Ambil Ijazah Kasi Sumbangan Dulu

Kawan-kawan siswa kelas 3 SMAN 1 Selong yang telah lulus berjumlah 248 orang, siang tadi melakukan pengambilan Ijazah, namun ironisnya mereka harus memberikan sumbangan satu sak semen baru mendapatkan Ijazah mereka. sebagian wali murid tidak mampu untuk memberikan sumbangan sebesar harga satu sak semen dan memberikan sumbangan semampu mereka, namun hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh pihak sekolah (panitia pengambilan Ijazah).
Perlu diketahui, bahwa SMAN 1 Selong merupakan salah sekolah yang menjadi sekolah favorit dan bergengsi. favorit bukan karena mutunya, namun karena dominan disana adalah golongan anak kaya, bergengsi karena berada tepat dipusat kota Kabupaten Lombok Timur. Jelas sudah bahwa semakin hari, pemerintah tidak lagi memperhatikan bagaimana mutu pendidikan namun cenderung pada proses pembiayaannya.
Kondisi pendidikan di lotim sendiri dari anggaran APBD hanya 8 persen saja, kemudian dari sisi kelulusan tahun ini, LOTIM peringkat terakhir dari kabupaten yang ada di NTB. tentunya ini semakin mengiris hati kita semua, sudah lulus malah diminta berikan sumbangan. tidak lulus ikut paket C. Inilah kondisi pendidikan kita. Biaya mahal, mutu tidak terjamin.

Globalisasi Ekonomi

Globalisasi Ekonomi, apa artinya buat buruh?
Hilmar Farid
Istilah 'globalisasi' mungkin tidak terlalu asing lagi buat kita sekarang. Hampir setiap hari istilah itu kita baca atau dengar di media massa maupun percakapan sesama teman. Sayangnya dalam media massa istilah itu tidak pernah dijelaskan tuntas. Yang kita tahu hanya bahwa globalisasi itu di satu sisi positif bagi pengusaha dan pedagang karena memberi kesempatan masuk ke wilayah manapun di dunia. Di sisi lain globalisasi juga dilihat sebagai tantangan yang menuntut persaingan lebih tajam di antara pengusaha. Di tingkat internasional, pemimpin-pemimpin negara bertemu, seperti pertemuan APEC di Bogor tahun 1994, mengatur segala hal yang berkaitan dengan pembukaan negara masing-masing terhadap barang dagangan dan investasi dari negara lain. Di wilayah lain tegadi pertemuan serupa yang diberi nama AFTA (untuk Asia Tenggara), NAFTA (untuk Wilayah Lautan Atlantik bagian utara). Sementara itu sejak tahun 1970-an sudah berlangsung perundingan yang diberi nama GATT, yang akhirnya pada tahun 1995 menjadi WTO (World Trade Organisation atau Organisasi Perdagangan Dunia). Dalam perundingan, kesepakatan dan organisasi itu semua hal yang berkaitan dengan penanaman modal dan perdagangan internasional, paling tidak yang menyangkut kepentingan para pengusaha dan pedagangnya. Kepentingan buruh juga dibicarakan serba sedikit, di sana-sini, tapi bukan untuk membela kepentingan buruh itu sendiri. Sebaliknya, masalah buruh sering dibicarakan oleh negara-negara maju untuk menekan negara Dunia Ketiga agar mengikuti skenario yang mereka atur. Hal ini pernah terjadi di Indonesia, saat Amerika Serikat mengancam akan memberhentikan fasilitas GSP bagi Indonesia jika tidak menghormati hak-hak buruh untuk berorganisasi.1) Banyak aktivis perburuhan dart berbagai kalangan 'termakan' oleh 'sikap baik' pemerintah Amerika Serikat, yang mereka pikir benar-benar membela kepentingan buruh. Nyatanya, 'sikap baik' itu hanya ada jika Amerika Serikat sedang punya persoalan dengan kebijaksanaan dagang yang tidak menguntungkan bagi mereka.
Risalah singkat ini akan membahas beberapa masalah di atas. Pertama, tentunya soal globalisasi itu sendiri. Apa yang sebetulnya terjadi dalam proses globalisasi itu? Apa bedanya dengan era industnalisasi substitusi impor, orientasi ekspor, yang sering kita dengar sebelumnya? Dari sini kita membahas bagaimana Indonesia masuk ke dalam proses globalisasi tersebut. Bagaimana sikap dan kebijaksanaan pemerintah terhadap globalisasi perdagangan. Pihak mana saja yang diuntungkan oleh sikap pemerintah itu? Terakhir, yang terpenting, apa anti globalisasi bagi buruh di Indonesia. Dan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap globalisasi? Globalisasi Ekonomi Istilah 'globalisasi' sebenarnya mengacu kepada makin menyatunya unit-unit ekonomi di dunia ke dalam satu unit ekonomi dunia. Secara kongkret bisa digambarkan begini. Celana yang kita pakai itu bisa jadi kainnya dibuat oleh buruh tekstil di Thailand, kancingnya di Korea Selatan, resleting-nya di Mexico, lambangnya di India dan penjahitannya sampai jadi celana di pabrik tempat kita kerja. Setelah jadi, barangnya dibawa dan dijual di Inggris dan Eropa Barat, dan dibeli oleh turis dari Amerika Latin. Atau ambil contoh lain, komputer yang dipakai mengetik makalah ini. Layar monitornya mungkin dirakit di Singapura, tapi banyak komponennya yang dibikin di Jepang, Taiwan atau Korea Selatan, sementara kabel listriknya dibikin di Amerika Serikat. CPU-nya lebih remit lagi. Tempat disketnya dibikin di Jerman, tombol-tombolnya di Malaysia, dan komponen lainnya di Argentina. Ini semua belum tentu benar, narnanya juga contoh, tapi dalam kenyataan kurang lebih begitulah. Nah, buat kita yang daya jelajahnya paling-paling keliling Jawa, kenyataan seperti itu terasa aneh. Bagaimana mungkin mengatur produksi barang yang dibikin di tempat yang berjauhan. Di sinilah peran perusahaan raksasa yang disebut perusahaan multinasional (multinational corporations atau MNC). Perusahaan semacam ini yang mengatur arus barang dan menjaga produksi agar selesai tepat pada waktunya, dan agar terus bisa bikin keuntungan.2) Karena jaringannya tersebar di mana-mana, maka bukan masalah untuk mendatangkan komponen dari segala penjuru dunia dan dirakit di tempat lain. Makin remit barangnya, makin besar modal yang diperlukan untuk mengatur produksinya dan makin besar perusahaan yang mengelolanya. Kalau melihat hasil akhimya mungkin kita tetap saja bingung. Mari kita lihat proses sampai terciptanya keadaan seperti itu. Pada abad ke-19, sekitar 150 tahun yang lalu, produksi barang dagangan belum sehebat sekarang. Kebanyakan pengusaha baru mulai mengumpulkan modal, dan juga belum malang melintang di seluruh dunia. Pengusaha-pengusaha di apa yang kemudian disebut negara maju (Eropa dan Amerika Utara) dapat keuntungan besar dari kolomalisme di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Keuntungan ini kemudian dipakai untuk mulai memproduksi barang-barang lain. Jadilah mereka berkembang menjadi pengusaha yang punya banyak perusahaan di berbagai bidang.3) Di tanah jajahan itu juga mereka membangun perusahaan baru, atau bekerjasama dengan perusahaan setempat. Kerjasamanva ada yang sebagai 'mitra sejajar' artinya saling memberi keuntungan, ada yang hanya memperlakukan sebagai boneka karena orang asing dilarang bekerja di negeri itu misalnya. Bentuk perusahaannya bisa macam-macam juga, misalnya joint-venture, investasi langsung, dan lainnya, tapi intinya adalah semua kegiatan produksi dan distribusi barang yang dihasilkan diatur oleh pemilik modal. Untuk menyebarkan barangnya, perusahaan raksasa ini perlu tempat-tempat yang pasti. Mereka lalu mendekati pemerintah yang berkuasa di satu negeri, dan meminta jaminan bahwa hanya produk perusahaan mereka yang boleh dijual di negeri tersebut. Praktek ini namanya monopoli dan berlaku juga untuk impor barang tertentu dari luar negeri. Karena praktek monopoli dan pencaplokan perusahaan ini maka lama-lama muncul perusahaan multinasional raksasa. Cabangnya ada di seluruh dunia, belum lagi jaringan bisnisnya. Perusahaan raksasa seperti ini paling banyak ada di Amerika Serikat pada awalnya. Negara ini hampir tidak tersentuh Perang Dunia I maupun II sehingga dengan tenang bisa terus membangun dirinya menjadi kekuatan ekonomi dunia. Jepang sempat luluh lantak pada Perang Dunia lI, tapi kemudian bangkit menjadi kekuatan yang amat penting. Di beberapa negara lain di Eropa Utara, ada juga perusahaan raksasa semacam itu, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Dalam globalisasi sekarang ini ada tiga hal dasar: (1) penghapusan hambatan dagang dan penanaman modal yang menciptakan gerak modal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Keputusan menghapus batas-batas itu memungkinkan perusahaan Jepang menanam modalnva di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia dan begitu juga sebaliknya (kalau mampu); (2) pembentukan blok-blok perdagangan regional seperti AFTA, NAFTA, CIS, MERCOSUR, APEC, dan lainnya yang punya komitmen memajukan perdagangan bebas. Di tingkat dunia, para pemimpin dunia sepakat untuk membentuk GATT dan kemudian WTO. Perkembangan ini kemudian memaksa pemerintah anggota blok perdagangan untuk mengeluarkan (3) peraturan dan undang-undang yang sesuai dengan kenyataan integrasi ekonomi yang baru, perdagangan bebas dan liberalisasi ekonomi. Banyak pengamat menilai bahwa di dalam situasi seperti ini peran negara sebagai pembuat kebijaksanaan tidak lagi penting, dan hanya sekadar menjadi pelayan kepentingan pasar bebas. Sepintas memang benar, karena keputusan di bidang ekonomi makin lama makin bergantung pada negosiasi dan kebijaksanaan di tingkat internasional, dalam forum APEC dan sejenisnya. Tapi di sisi lain, negara masih berkuasa penuh terhadap wilayahnya, terutama dalam hal menjaga keamanan dan ketertiban, sekaligus mengatur kepatuhan buruh. Hal ini akan kita bicarakan lebih lanjut di bagian belakang. Di Asia Pasifik, ada dua kekuatan besar yang berkuasa, yakni Amerika Serikat dan Jepang. Amerika Serikat berkuasa terutama secara militer, terbukti dari keterlibatannya dalam politik dalam negeri sejumlah besar negara. Di Filipina, saat masih ada pangkalan perang Subic Bay dan Clark, pemenntah Amerika Serikat menjadi unsur yang menentukan, terutama saat penggulingan Marcos dari jabatan presiden dan kehidupan politik secara umum. Pemerintah Indonesia saat ini juga sedang menghadapi tekanan dari pihak Amerika Serikat, yang mengecam tindakan keras militer dalam menghadapi masalah 27 Juli 1996. Secara ekonomi Amerika Serikat juga memiliki kepentingan yang luas di wilayah ini. Di Indonesia khususnya dalam bidang eksplorasi minyak dan hasil-hasil tambang. Jepang sementara itu dalam ekonomi Asia-Pasifik adalah kekuatan tekno-ekonomi yang paling besar dan kuat. Jaringan TNC-nya di wilayah ini sudah jauh melebihi kekuatan Amerika Serikat, khususnya dalam sektor manufaktur. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya produk Jepang di pasaran Indonesia, khususnya barang-barang elektronik atau listrik. Perlu diketahui, karena kelebihan Jepang dalam pengembangan teknologi, ia menciptakan ketergantungan baru--dari segi industri--dalam hubungannya dengan negara-negara industri baru (newly industrialized countries). Bagaimana Indonesia menghadapi Globalisasi? Dalam diskusi-diskusi kita sering mendengar istilah industrialisasi substitusi impor (ISI) dan industrialisasi orientasi ekspor (I0E). Keduanya digambarkan sebagai strategi industrialisasi yang dikembangkan oleh negara. Strategi pertama (substitusi impor) berlangsung sejak tahun 1970-an, saat pemerintah menggarap habis-habisan sumber daya mmyak dan gas bumi. Pendapatan dari sektor ini begitu besar sehingga pemerintah dapat menghidupkan banyak kegiatannya tanpa perlu pinjam uang (hutang) atau dapat bantuan dari negara lain. Bagi yang sudah besar di tahun 1970-an mungkin masih ingat betapa susahnya menemukan barang-barang impor untuk kebutuhan sehan-hari seperti sepatu, baju dan sebagainya. Sekarang sepatu Nike bukan barang langka lagi di pasaran, walau tetap tidak terjangkau oleh kebanyakan teman-teman. Nah, strategi ini berubah di tahun 1980-an, saat pendapatan dari minyak dan gas bumi ini jauh menurun. Hal ini terlihat dari ramai-ramamya pejabat pemerintah (sampai Presiden Soeharto sendiri) bicara soal perlunya ekspor non-migas. Ketika menyusun strategi industnalisasi itu, pemerintah tidak sendirian. Ada banyak penasehat, terutama yang berasal dari negara dan lembaga donor, seperti Amerika Serikat dan Jepang serta Bank Duma dan IMF. Saat dicanangkannya strategi ekspor, pemerintah tidak punya banyak pilihan. Selama ini andalan ekonominya adalah minyak dan gas bumi. Industri manufaktur hanya sedikit saja, dan infrastrukturnya terlalu lemah untuk menjadi sebuah wilayah industri baru. Karena itu pemenntah lalu membuka Indonesia bagi penanaman modal asing, yang diharapkan dapat membantu mengembangkan dunia industri. Sejak tahun 1980-an mulailah dibangun pabrik dan kemudian wilayah industri (Tangerang, Bogor dan Bekasi di Jawa bagian Barat; Gerbangkertasusila di Jawa Timur, dan lainnya) di seluruh Indonesia yang mencapai puncaknya pada tahun 1990an ini. Kembali ke contoh sepatu, bersamaan dengan itu kita juga melihat banjirnya pasaran dengan barang-barang 'luar negen' seperti Nike, Reebok, dan merk-merk lainnya. Perubahan strategi ini semula dianggap sangat berhasil karena pendapatan negara dan angka pertumbuhan melonjak tinggi. Secara bertahap pemerintah mengeluarkan aturan-aturan baru yang menjamin penanaman modal asing secara langsung, dan memudahkan fasilitas dagang dan investasi di Indonesia. Pada tahun 1994 dikeluarkan PP20/1994 yang mengembalikan status investasi asing di Indonesia seperti pada masa awal berdirinya Orde Baru, yaitu bahwa investasi bisa 100% dimiliki orang asing (semula harus kerjasama dengan pengusaha dalam negeri). Kalau kita-kita berhenti pada angka-angka pertumbuhan dan devisa mungkin kita sudah puas dan ikut manggut-manggut. Tapi industrialisasi ini punya sisi lain. Sejak tahun 1990 kita mencatat gelombang pemogokan yang makin besar di seluruh Indonesia. Sekarang ini pemogokan sudah bukan barang aneh bagi buruh di Indonesia. Hampir setiap hari ada berita di media massa tentang buruh mogok di berbagai pabrik dan daerah. Tuntutan umumnya kenaikan upah dan kesejahteraan. Ada beberapa yang bahkan menuntut perubahan politik yang lebih menjamin kehidupan buruh. Pemerintah bilang bahwa gelombang pemogokan ini terjadi karena ada 'pihak ketiga' yang menunggangi tapi pengalaman kita mengatakan bahwa pemogokan itu terjadi karena buruh-buruhnya sudah tidak puas dengan keadaan mereka, baik dari segi upah maupun kesejahteraan secara umum. Di sisi lain terjadi juga protes di kalangan petani, dan sektor-sektor masyarakat lainnya, yang umumnya memprotes pemerintah karena kebijaksanaannya atau bahkan menuntut agar pemerintah menyediakan penghidupan yang lebih baik (membagi rezeki yang didapat selama ini kepada rakyat). Kenyataan ini juga perlu dipertanyakan: mengapa saat adanya peningkatan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi (katanya) justru buruh-buruh protes karena upahnya tidak cukup dan merasa hidupnya tidak sejahtera? Di sini juga ada kontradiksi, di satu sisi makmur; di sisi lain menderita. Untuk mengerti persoalan ini, kita perlu melihat industri macam apa yang dibangun di Indonesia selama ini, dan bagaimana pengelolaannya. Setelah rezeki minyak berlalu, pemerintah--dengan dukungan pengusaha, lembaga dan negara donor--untuk membangun mdustri yang berorientasi ekspor. Tujuannya tidak lain agar ada pemasukan dari sektor lain yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Para pemilik modal tentunya bertanya-tanya: "apa yang bisa you tawarkan, kok berani-beraninya mengundang kita menanam modal?" Dalam industri ada tiga hal penting: modal, bahan mentah dan tenaga kerja. Kalau modal jelas Indonesia tidak punya. Di tahun 1980-an belum ada pengusaha-pengusaha mentereng (konglomerat) seperti Liem Sioe Liong, kelompok Bimantara, Bakrie Brothers, Lamtoro Gung Persada, Sudwikatmono, dan sebagainya. Mereka sudah mulai bisnis tapi ukurannya masih kecil, dan (sampai sekarang) belum ada apa-apanya dibandingkan TNC dari Amerika Serikat (Exxon, Caltex, Freeport) atau Jepang (Toyota, Mitsubishi). Yang berduit di zaman itu adalah pemerintah sebagai pengelola Pertamina, beberapa orang yang sudah lama jadi pengusaha dan orang-orang yang pegang lisensi menggarap sumber daya alam, seperti hutan dan lainnya. Jadi, belum terbentuk kumpulan pemilik modal yang kuat. Bahan mentah, Indonesia cukup kaya, tapi industri yang mengolah bahan itu belum banyak berdiri. Bahan mentah itu juga kebanyakan hasil tambang dan hutan, itupun terbatas. Sementara itu industri berorientasi ekspor itu membutuhkan bahan mentah yang beragam, bukan hanya hasil tambang dan hutan. Jadi, dari segi bahan mentah pun belum cukup. Nah, kalau tenaga kerja, jumlahnya seabrek-abrek. Penduduk Indonesia jumlahnva saat itu 175 juta orang dan 70% berada dalam usia angkatan kerja. Banyak di antara penduduk ini menganggur karena tidak ada lowongan kerja. Dan ini oleh ahli-ahli ekonomi disebut sebagai 'keunggulan komparatif' karena tenaga kerja di negara-negara lain, harganya sudah sangat mahal. Pada tahun1970-an juga tidak ada serikat atau organisasi buruh yang mengurus upah, jadi tingkat upah (sampai sekarang) ditentukan sepihak oleh pemerintah. Kalaupun ada pihak lain yang didengar maka itu adalah pengusaha yang berkepentingan sekali mendapat tenaga kerja murah. Nah, berdirilah industri Indonesia yang bersandar pada buruh murah dan sedikit bahan mentah. Sejak itu beramai-ramai pengusaha internasional datang ke Indonesia, menanam modalnya, mendinkan pabrik dan merekrut buruh. Beberapa pengusaha dalam negeri ikut memanfaatkan kesempatan ini dengan mendirikan perusahaannya sendiri atau kalau modalnya tidak cukup mendirikan perusahaan patungan (joint-venture). Ini khususnya berlaku untuk industri manufaktur yang belum banyak dikembangkan pada masa itu. Industri tambang, seperti Freeport di Irian Jaya, dan pengeboran minyak, sudah lama dipegang oleh perusahaan asing. Mereka bahkan mendapat fasilitas khusus dengan sistem bagi hasil yang mirip dengan sistem produksi di zaman kolonial. Di samping itu ada beberapa sektor industri yang dilindungi oleh negara, karena sifatnya strategis dan penting bagi masyarakat. Dalam pembicaraan sehari-hari sektor itu kita kenal dengan 'sektor monopoli'. Setelah berjalan selama beberapa tahun, muncul isyu globalisasi. Indonesia terlibat aktif di dalamnya, dan bahkan menjadi penyelenggara konperensi APEC di Bogor pada tahun 1994. Terlibatnya Indonesia dalam forum perdagangan bebas membawa pengaruh besar bagi kalangan pengusaha. Sebelumnya pemerintah sering memberikan lisensi atau hak monopoli kepada pengusaha tertentu. Hak itu melindungi si pengusaha dari serbuan modal asing yang dilarang untuk menyelenggarakan kegiatan yang sama di Indonesia. Misalnya HPH hanya diberikan kepada pengusaha dalam negeri walaupun banyak pengusaha asing yang punya kemampuan dan ingin memanfaatkan kesempatan itu. Belakangan ini kita dengar berita tentang mobil nasional, Timor yang dikelola oleh Tommy Soeharto. Perusahaannya mendapat fasilitas khusus dari pemerintah untuk mengimpor komponen dan unsur produksi lainnya, agar dapat menjual mobil nasional lebih murah ke pasaran (dan sekaligus menguasai pasar). Dalam sektor petrokimia hak istimewa diberikan kepada PT Chandra Asri yang sempat menciptakan perdebatan hangat di kalangan pengusaha, karena merasa praktek monopoli seperti itu tidak fair. Sebelumnya ada kasus BPPC yang memberikan hak monopoli dalam perdagangan cengkeh. Dalam era perdagangan bebas, praktek semacam itu tidak dibenarkan, karena prinsipnya "semua orang mendapat kesempatan yang sama". Sekarang ini tengah terjadi perdebatan dan pergeseran kebijakan yang harus mendukung prinsip perdagangan bebas dan penghapusan segala macam hambatan untuk menanam modal di Indonesia. Di atas kertas, pemerintah Indonesia akan ikut dalam arus perdagangan bebas, dengan menyesuaikan kebijaksanaan ekonominya dengan prinsip-prinsip yang dicanangkan oleh forum perdagangan regional dan internasional itu. Dalam kenyataan masih terus terjadi praktek monopoli dan pemberian hak istimewa kepada pengusaha tertentu. Ini tentunya menciptakan kontradiksi. Di satu pihak punya komitmen pada perdagangan bebas, tapi di sisi lain tetap ada praktek monopoli. Dalam kasus mobil Timor misalnya, pemerintah Amerika Senkat dan Jepang mengecam kebijakan memberikan hak impor bebas bea itu karena dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan bebas yang dicanangkai dalam WTO dan APEC. Dan sampai sekarang masalah itu tetap masuk dalam agenda pembahasan ekonomi internasional tentang Indonesia. Di sampmg kontradiksi itu yang menonjol juga masalah pengembangan sektor industri dalam kehidupan ekonomi nasional. Seperti kita lihat, industri Indonesia bersandar pada tenaga kerja murah dan sedikit bahan mentah. Terlalu banyak uang yang harus dikeluarkan untuk menciptakan industri hulu semacam baja atau logam, olefin dan lainnya, dan panjang sekali waktu yang diperlukan untuk mendapatkan keuntungan (akumulasi modal). Para penanam modal asing dari Jepang, negara-negara Asia Timur lainnya (Korea Selatan, Taiwan) juga punya kerangka berpikir seperti ini. Saat ini arus modal mereka mulai masuk ke Indonesia dalam jumlah yang sangat besar, tapi hanya pada sektor manufaktur ringan, dan kadang-kadang bekerjasama dengan pengusaha dalam negeri. Pabrik-pabrik yang mereka dirikan sudah dihitung dapat memberikan keuntungan dalam waktu singkat, karena pada dasarnya hanya merupakan 'pindahan' (relokasi) dari negara-negara yang tenaga kerjanya sudah mahal. Upah buruh di Indonesia sekarang ini termasuk yang paling rendah di Asia dan juga di dunia. Semua ini punya akibat yang serius bagi buruh yang menjadi tulang punggung industrialisasi ini. Lantas, Apa Arti Semua itu Bagi Buruh? Berkembangnya industrialisasi, terutama dengan masuknya gelombang modal asing ke Indonesia pada tahun 1980-an pertama-tama berarti terjadinya pemusatan penduduk di daerah perkotaan. Pedesaan atau basis kegiatan pertanian, yang tidak begitu terurus, makin terbengkalai saja. Di dalam konsep perdagangan bebas sektor pertanian akan lebih sengsara lagi karena harus membuka pasar dalam negeri bagi barang-barang pertanian dari luar. Pemusatan penduduk di daerah perkotaan ini makin memperlemah sektor pertanian dari segi tenaga kerja, dan juga makin banyaknya orang yang terserap ke dalam sektor industri (tidak harus sebagai buruh). Dari penjelasan di atas kita lihat bahwa tenaga kerja adalah unsur penting dalam pembangunan industri. Para perencana pembangunan, baik dari dalam negeri maupun lembaga-lembaga ekonomi seperti IMF dan World Bank yang didominasi Amerika Serikat sadar betul akan kenyataan itu. Adalah mereka yang juga 'membantu' menyusun konsep industrialisasi onentasi ekspor yang mengandalkan buruh murah dan sedikit bahan mentah. Memang secara statistik, strategi mdustrialisasi untuk ekspor ini menghasilkan pertumbuhan yang mengesankan, tapi pertumbuhan itu dibangun dengan menekan buruh sedemikian rupa secara ekonomi maupun politik. Secara ekonomi, upah buruh ditentukan sepihak oleh pemerintah berdasarkan standar-standar tanpa melibatkan buruh. Berdatangannya orang dalam jumlah besar ke kota-kota (urbanisasi) juga menghasilkan wilayah pemukiman yang amburadul dan jauh dari standar kesejahteraan. Sebagian kita mungkin terima jadi saja, 'memang sudah nasibnya begitu'. Tapi perlu diingat bahwa keadaan itu sebenarnya terjadi karena adanya proses globalisasi yang didukung oleh policy pemerintah. Karena tidak adanya akses buruh ke meja perundingan ekonomi internasional, regional, nasional, lokal maupun tingkat pabrik, maka masalah-masalah itu terbengkalai begitu saja. Perhatian dari pengusaha maupun pemerintah baru ada kalau protes sudah terjadi, dan korban sudah berjatuhan. Perundingan APEC, WTO dan sebagainya memang tidak pernah memperhitungkan unsur buruh di dalamnya, karena para pemikirnya berangkat dari pemikiran bahwa buruh hanyalah faktor tenaga kerja yang statis dan diperlakukan sebagai salah satu deret statistik saja. Secara politik pemerintah menjamin ketidakterlibatan buruh dengan menutup kemungkinan berorganisasi. Jika kita lihat di negara-negara lain, seperti Afrika Selatan, buruh memainkan peranan penting dalam menentukan kebijaksanaan ekonomi nasional dan juga berpengaruh dalam pembentukan forum regional tentang perdagangan bebas. Dari uraian di atas kita lihat ada kontradiksi kepentingan di antara rezim perdagangan bebas dan industri nasional (monopoli versus liberalisasi). Praktek merkantilisme seperti BPPC clan tata niaga jeruk juga ditentang karena tidak sesuai dengan prinsip pasar bebas. Kelihatannya dalam beberapa tahun mendatang Indonesia akan mendapat masalah dengan praktek-praktek itu. Amerika Serikat dan Jepang adalah pihak-pihak yang sangat berkepentingan untuk menghapus praktek monopoli itu, dan sekarang sudah terus melancarkan kecaman. Dalam kasus ini Amerika Serikat juga 'memakai' isyu perburuhan dan hak asasi manusia untuk menekan Indonesia menjadi lebih terbuka dan liberal dalam kebijaksanaannya. Sepintas lalu, tampak ada kesesuaian kepentingan, karena dua-duanya (Amenka Senkat maupun buruh) giat memperjuangkan kebebasan organisasi, tapi kepentingan dasarnya sangat berbeda. Organisasi buruh sekarang menghadapi masalah ini. Di satu sisi mendesaknya kebutuhan berorganisasi ini ditopang oleh 'dukungan' Amerika Serikat yang juga menghendaki berkurangnya kekuatan terpusat yang lebih sulit mereka kontrol. Kalau ada serikat-serikat buruh dan organisasi masyarakat yang kuat mengimbangi pemerintah, maka kekuasaan tidak lagi ada di satu institusi saja, dan dalam keadaan seperti itu lebih mudah pula dilakukan negosiasi dan sebagainya. Catatan: 1) Generalized System of Preferences (GSP) adalah aturan pemerintah Amerika 5erikat tentang perdagangan mereka dengan negara-negara lain. Aturan itu menyediakan berbagai kemudahan dagang (yang memberi keuntungan) bagi negara lain, yang sewaktu-waktu bisa dicabut jika pemerintah negara lain itu tidak memenuhi bermacam tuntutan pemerintah Amerika Serikat. 2) Sekarang ini seperempat dari seluruh aset produktif di dunia (alat produksi seperti mesin, gedung, tanah dan sebagainya) dikuasai sekitar 300 perusahaan raksasa semacam itu. Jaringan perusahaan semacam itu tersebar di seluruh dunia, juga di Indonesia. Pendapatan perusahaan raksasa ini juga luar biasa. Pada tahun 1980, penjualan tiap 10 perusahaan multinasional terbesar di dunia mencapai $28 milyar dolar, lebih besar dari pendapatan nasional banyak negara di dunia. Penjualan perusahaan Exxon misalnya lebih besar dari pendapatan nasional Denmark, Austria dan Norwegia. General Motors kalau dianggap sebagai negara, maka namanya akan masuk ke dalam jajaran 20 negara terkaya di dunia. 3) Ada juga uangnya yang tidak langsung ditanam ke pabrik atau tempat produksi tertentu. Uang itu mereka kumpulkan di satu tempat yang namanya bank. Simpanan itu kemudian mereka pinjamkan kepada orang atau pengusaha lain (kredit) yang harus dibayar kembali dengan bunga. Kalau tidak sanggup bayar bunga, maka orang itu harus menyerahkan barang miliknya (tanah atau perusahaan) sebagai gantinya. Itu sebabnya banyak konglomerat yang bisa punya ratusan perusahaan dalam waktu sekejap.